Lapek Bugih, Kudapan Manis Berbahan Dasar Tepung Ketan

Oleh Haura Hamidah (2110722003)


     Negara Indonesia terkenal sebagai negara maritim dan negara kepulauan yang memiliki beraneka ragam budaya di dalamnya. Baik itu berupa budaya bahasa, adat istiadat, maupun kuliner. Di setiap wilayah di Indonesia memiliki ciri khas dalam budaya, adat istiadat, ataupun kulinernya. Seperti wilayah dengan masyarakat bersuku Minang seperti di Sumatra Barat, Riau, dan wilayah lainnya.

          Salah satunya, kuliner yang terkenal dari kalangan masyarakat Minang. Kuliner berupa makanan ringan yang disajikan sebagai kudapan oleh masyarakat Minang yang bernama lapek bugih. Lapek bugih adalah kudapan manis yang dibaluti dengan daun pisang seperti lapek pada umumnya. Namun, hal yang membedakan lapek bugih ini dengan lapek yang lain ialah tekstur dan bahan utama dalam pembuatannya yang menggunakan tepung ketan.

Lapek bugih begitu dikenal di antara masyarakat Minang. Masyarakat tua, muda, orang tua, anak-anak, semua kalangan masyarakat akrab dengan kudapan ringan ini. Lapek bugih termasuk jajanan tradisional dari Minang. Biasanya, makanan ini disajikan dalam suatu acara adat seperti acara alek nagari yang menampilkan kebudayaan dan kesenian suatu nagari. Kudapan lapek bugih hadir dan disajikan untuk penampil kesenian, ninik mamak, datuk, dan tetua adat lainnya dalam acara alek nigari tersebut.

            Konon certianya, lapek bugih ini berasal dari pelayar Bugis yang merantau hingga ke tanah masyarakat Minang. Dia membawa dan memperkenalkan kudapan ringan ini hingga sekarang popular dengan nama lapek bugih. Nama lapek yang dalam bahasa Indonesia berarti lepat dan nama bugih yang berarti Bugis, asal daerah kudapan kuliner ini berasal.

            Bahan utama dalam pembuatan lapek bugih ialah menggunakan tepung ketan. Tepung ketan atau tepung pulut yang digunakan ialah tepung ketan yang berwarna putih dan berwarna hitam. Oleh karena itu, penggunaan tepung ketan yang berbeda warna menghasilkan lapek bugih dengan dua varian warna. Selain itu, untuk isian lapek bugih sendiri menggunakan kelapa parut yang dicampur dengan gula merah atau gula pasir. Terkadang, isian lapek bugih juga ada yang menggunakan kacang sebagai isian dan variasi tersendiri.

            Bahan pembuatan yang menggunakan tepung ketan dalam proses pembuatannya, menjadikan lapek bugih sebagai kudapan yang dapat mengenyangkan. Memiliki tekstur kenyal dan sedikit lengket, akibat dari penggunaan tepung ketan. Selain itu, lapek bugih memiliki rasa yang khas, berupa manis dan gurih. Rasa manis didapatkan dari penggunaan gula merah atau gula pasir. Sedangkan rasa gurih didapatkan dari penggunaan kelapa parut dan adonan lapek bugih yang juga menggunakan santan.

            Kudapan lapek bugih dapat dijumpai di beberapa pasar tradisional Sumatra Barat. Salah satunya, pasar tradisional Padang Lua, Kabupaten Agam. Lapek bugih sendiri biasanya dijual dengan harga yang terjangkau, yaitu Rp2000. Penggunaan tepung ketan atau tepung pulut yang saat ini sudah mulai naik di pasaran, menjadikan harga lapek bugih menjadi naik dari biasanya yang dahulu seharga Rp1000. Pada bulan Ramadhan, lapek bugih kerap dijajakan oleh para pedagang makanan di pasar Ramadhan atau tepi jalan.

*Penulis merupakan Mahasiswa Departemen Sastra Indonesia Universitas Andalas  


Komentar